Cerita Joko Linglung, Aji Soko dan Bledug Kuwu
3 minute read
Lapindo.
Saya yakin semua kerabat akarasa tidak asing dengan tempat ini, atau bahkan
pernah mengunjungi lokasi samudera lumpur
yang tek henti-hentinya keluar dari perut bumi di Porong, Sidoarjo, Jawa
Timur ini. Dan ternyata lumpur Lapindo
ini mempunyai saudara tua. Penasaran, mau tahu dimana lokasi saudara tuanya?
Bledug
Kuwu. Itulah saudara tua lumpur Lapindo. Bledug Kuwu memang terdengar sedikit
asing dibanding lumpur Lapindo meski keberadaannya lebih tua, bahkan karena
sangat tuanya hingga saat terjadinya pun tidak ada yang tahu persisnya. Bledug
Kuwu ini terletak di desa Kuwu
Kecamatan Kradenan , Grobogan,Jawa Tengah. Obyek wisata Bledug Kuwu merupakan pesona keindahan alam. Keanehan
yang ada di obyek wisata ini adalahadanya letupan-letupan lumpur yang airnya
mengandung garam dan itu berlangsung terus menerus sehingga menimbulkan
pemandangan alam yang sangat menakjubkan, padahal secara geologis lokasi Bledug
Kuwu ini cukup jauh dari laut.
Konon
menurut cerita rakyat, keanehan itu disebabkan adanya lubang
yang menghubungkan tempat itu dengan
laut selatan. Lubang itu sendiri terjadi dari perjalanan pulang Joko Linglung
dari laut selatan menuju kerajaan Medang Kamolan, setelah melaksanakan tugasnya
untuk menaklukkan Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di laut selatan. Dan hal itu dilakukan
Joko Linglung yang berujud ular naga sebagai syarat agar Joko Linglung diakui
sebagai anaknya Aji Saka yang sebagai raja Medang Kamulan ketika itu.
Dari
seorang kuncen yang saya temui. Konon dahulu di kerajaan Medang Kamulan
dikuasai oleh seorang raja bernama Prabu Dewata Cengkar. Dia adalah sosok raja
yang sombong, serakah dan ditakuti. Ia juga dikenal sebagai raja yang tidak
bisa mati, sehingga tidak pernah kalah kala bertarung melawan musuh-musuhnya.
Ia juga sering menarik upeti kepada rakyat semaunya. Jika ada yang membangkang,
langsung dibunuh.
Apabila
ada prajurit yang tidak taat, langsung dipecat bahkan hingga dihukum mati.
Konon, Dewata Cengkar mempunyai ritual meminum darah manusia. Kesaktian raja
itu menyebabkan dirinya tidak bisa terbunuh atau mati. Namun akhirnya datanglah
seorang tokoh ksatria dari negeri Tibet bernama Aji Saka. Di tangan Aji Saka
lah Dewata Cengkar kuwalahan soal kadigdayan. Terjadi pertarungan hingga
akhirnya Dewata Cengkar kalah. Meski demikian, pertarungan itu tidak
menyebabkan raja tersebut terbunuh, dia hanya kalah bertarung. Cengkar kemudian
melarikan diri ke laut selatan dan malih rupa menjadi bajul putih atau buaya
putih. Aji Saka kemudian mengutus anaknya bernama Jaka Linglung, untuk
mengejarnya ke laut selatan.
Jaka
Linglung sendiri konon adalah merupakan sosok lelaki yang sakti mandraguna,
namun ia mempunyai fisik buruk rupa dan mengerikan. Kepercayaan masyarakat
sekitar, Jaka Linglung digambarkan sebagai ular naga raksasa. Sebelum berangkat
ke laut selatan, Jaka diberi pesan oleh ayahnya. Jika menang melawan Bajul
Putih, ia tidak diperbolehkan pulang melalui jalur darat, melainkan harus
melalui perut bumi.
Mengapa
lewat jalur bawah tanah? Karena, fisik Jaka Linglung supaya tidak dilihat oleh
masyarakat, sebab jika melihatnya, dikhawatirkan akan menjadi bahan
pergunjingan masyarakat. Terlebih fisiknya yang menakutkan. Bajul Putih pun
akhirnya berhasil dibunuh oleh Jaka Linglung dalam pertarungan di laut selatan.
Jaka pun kemudian pulang sebagaimana pesan ayahnya, yakni melalui jalur bawah
tanah. Begitu keluar, ia menyembul di daratan Desa Kuwu ini.
Kubangan
lubang tanah yang menyemburkan lumpur di lahan tanah tak kurang sekitar 40
hektar di Desa Kuwu inilah yang kemudian dipercaya sebagai tapak tilas makhluk
mengerikan berwujud ular naga raksasa yang heroik tersebut mencari lokasi
kerajaan bapaknya. Itulah sebab mengapa masyarakat sekitar percaya bahwa lubang
di Bledug Kuwu itu terhubung dengan laut selatan, sehingga air semburan itu
berasa asin.
Masih
menurut cerita kuncen, Lapindo di Porong, Sidoarjo dan yang dua tahun lalu
muncul juga di desa Mbetatu, Kabupaten Gresik adalah tempat Joko Linglung
tersesat mencari bapaknya, Aji Saka. Menurut pak kuncen ada kesamaan dengan tempat
ini, airnya sama-sama asin.
Adanya kandungan
garam ditempat itu
oleh masyarakat setempat
dimanfaatkan untuk membuat
garam secara tradisional
dengan cara airnya dikeringkan di glagah (bambu yang dibelah jadi dua).
Ada juga yang membawa lumpur Bledug Kuwu untuk dibawa pulang dan konon lumpur
itu buat lulur di kulit agar kulit terhindar dari penyakit kulit juga diyakini
bisa membuat lebih cemerlang bagi kulit yang sudah sehat.
Dan
yang menatik lagi, bahkan letupan di Bledug Kuwu ini juga punya nama
masing-masing. Letupan terbesar Bledug Kuwu dinamai Joko Tuwo. Dia meledak
secara berkala sekira 15 detik sekali dengan bunyi “Bledug” seperti namanya
kini. Lemparan lumpur sekira 5-10 meter ke udara dan jatuh ke tanah sekira 10
meter. Sementara letupan terkecil disebut Roro Denok, bunyinya lebih lemah.
Kapasitas lemparan ke udara hanya 1-2 meter ke udara. Frekuensi letusan Joko
Tuwo 4-5 kali per menit. Sementara letusan kecil mencapai 10 kali lebih per
menit. Kerabat akarasa penasaran pada saudara tua Lapindo, datang saja ke
Bledug Kuwu. Sekian.
Pelajarilah orang-orang besar dari Grobogan. Ki Ageng Getas Pendowo, Ki Ageng Selo Penangkap Petir, Ki Ageng Tarub yang paling Tua. dan banyak legenda kebesaran lagi tentang Wilayah Kita ini. Kabupaten Grobogan.
Pelajarilah orang-orang besar dari Grobogan. Ki Ageng Getas Pendowo, Ki Ageng Selo Penangkap Petir, Ki Ageng Tarub yang paling Tua. dan banyak legenda kebesaran lagi tentang Wilayah Kita ini. Kabupaten Grobogan.