Malam Minggu Kelabu: Tragedi Terapis di Bantengmati
Dwi Kristiani, 34 tahun, meninggal dengan tangan dan kaki terikat jadi satu di belakang punggung serta mulut dan hidung dilakban di sebuah kontrakan di Dusun Bantengmati, Desa Karanganyar, Sabtu sore lalu, 22 Juni 2024.
Lokasinya hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Simpanglima Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah ke arah timur.
Hasil autopsi menunjukkan, ada bekas pukulan benda tumpul ke kepala. Namun, dia meninggal karena jeratan di leher.
Dwi adalah warga Desa Ngembak, Purwodadi. Dia sehari-hari bekerja sebagai terapis atau tukang pijat khusus wanita. Dia memiliki dua anak, lelaki dan perempuan. Suaminya biasa merantau ke Jakarta sebagai buruh bangunan dan hari itu sang suami baru berangkat dua hari sebelumnya.
Sabtu pagi itu, Dwi masih sehat walafiat dan tentu tak menyangka bahwa itu adalah hari tragedi baginya. Dwi masih mengambilkan raport anak pertamanya, lelaki, di MI Jabalul Khoir Purwodadi.
Setelahnya, Dwi masih sempat menerima satu panggilan pijat sebelum akhirnya dia istirahat di rumah orangtuanya di Sambak, Purwodadi.
Sekitar pukul 15.00 WIB, Dwi mendapat panggilan untuk memijat di Bantengmati. Dia sempat berpamitan pada orangtuanya.
Sampai di lokasi, seperti yang kita tahu. Sekitar pukul 17.15 WIB, tetangga rumah kontrakan sempat mendengar teriakan histeris seorang wanita.
Seorang lelaki warga setempat yang mendengar suara itu sempat mendatangi kontrakan. Si warga itu memanggil penghuni dari gerbang kontrakan setinggi 2 meteran itu. Konon, karena panggilan warga itu, suara teriakan histeris wanita terhenti.
Usai Maghrib, dua orang lelaki keluar dari kontrakan itu. Setelahnya, warga setempat berinisiatif memeriksa rumah kontrakan dengan penjaganya. Kabarnya warga juga langsung mengajak polisi dalam pengecekan rumah kontrakan yang berada di gang buntu itu.
Dan seperti yang kita tahu, si terapis sudah dalam kondisi terikat dan meninggal dunia. Ponsel, dompet dan motor korban dibawa kabur pelaku. Namun, perhiasannya masih utuh di tubuh korban.
Bantengmati pun geger. Malam minggu itu berubah jadi kelabu.
Polisi menyatakan sudah mengantongi identitas dua terduga pelaku. Namun hingga dua hari pascakejadian, keduanya belum berhasil ditangkap.
Keduanya diduga kabur ke arah hutan di kawasan Letter S, Jalan Purwodadi-Solo antara Toroh dan Geyer.
Sampai tertangkapnya pelaku, motif dari tragedi itu masih jadi misteri. Polisi juga belum berani memberikan kesimpulan sementara. Kita tunggu perkembangannya. (dnd)